Istilah Kayu Jati Belanda

Istilah Kayu Jati Belanda


 

Kadang agak membingungkan, dan banyak juga yang salah mengartikan.


Jati Belanda hanyalah istilah, bukan nama atau jenis kayu resmi. Istilah atau penamaan kayu Jati Belanda juga berubah-ubah, dulu orang mengartikannya sebagai Kayu Sungkai, tapi saat ini orang lebih mengartikannya untuk kayu-kayu impor dari keluarga pohon Pinus, seperti Pinus dan Cemara, baik kayu-kayu bekas palet (packing kiriman impor) maupun kayu yang baru.


Di Amerika dan beberapa negara lainnya, kayu-kayu yang digunakan untuk palet adalah kayu-kayu Spruce, Pine dan Fir atau biasa disingkat S-P-F, ini semua dari pohon keluarga Pinus. Kayu-kayu ini paling banyak digunakan dan paling banyak tumbuh, khususnya di negara-negara dengan 4 musim. Grade atau tingkatan kayu-kayu ini juga bermacam-macam, ada grade furniture, grade konstruksi untuk pembuatan rangka rumah dan yang paling bawah grade ekonomis. Grade ekonomis ini yang biasanya digunakan untuk palet.

Berbeda dengan kayu Pinus dan Cemara yang ada di Indonesia, kayu yang berasal dari negara-negara dengan 4 musim memiliki corak yang lebih jelas dan khas, belum lagi tingkat kekerasannya lebih keras dibandingkan dengan yang ada di Indonesia, ya mungkin karena pohon yang tumbuh di tempat dingin lebih lambat tumbuhnya sehingga kayunya menjadi lebih padat.

4 Tahun terakhir, kayu-kayu Jati Belanda menjadi tren di Indonesia, karena banyak orang yang suka dengan warna dan coraknya. Selain murah (dulu), kayu Jati Belanda mudah di proses dan siap pakai, karena kayunya sudah kering dan sudah melalui proses pengeringan/oven (HTKD - Heat Treated Kiln Dried).


Untuk kayu-kayu baru (non-palet), memang masih agak susah untuk ditemukan, hanya ada beberapa importir yang ada di Indonesia dan rata-rata tidak di ecer. Beberapa importir yang pernah saya coba seperti Abadi Indorona, Madero Internasional dan El-Wood, biasanya bisa kita beli ecer (dulu), tapi entah sekarang, sudah lama tidak belanja kayu lagi. Mereka biasanya menjual kayu Spruce baru grade furniture dan konstruksi, kadang ada juga kayu Radiata Pine, selain itu mereka juga menyediakan kayu-kayu impor lain seperti Walnut, Maple dan White Oak. Ketiga importir itu berada di Semarang, Jawa Tengah, untuk infonya, temen-temen bisa Googling. Selain ketiga diatas, masih ada beberapa lagi, tapi belum saya coba, contohnya APP Timber yang berada di Kendal, Jawa Tengah.


Untuk palet, itu juga ada grade atau tingkatannya, ada juga standarisasi, seperti standarisasi EPAL. Untuk palet grade menengah kebawah, biasanya kayu yang digunakan campur-campur, tapi tetap menggunakan kayu SPF, makanya kadang satu palet warna kayunya beda-beda. Untuk corak dan warna kayu-kayu SPF memang agak mirip-mirip, Spruce itu lebih putih, Pine itu lebih kekuningan/kecoklatan dan Fir atau Douglas Fir itu biasanya pink/kemerahan. Untuk kayu Spruce, buat temen-temen yang biasa bikin gitar akustik mungkin sudah familiar.

So, jadi kesimpulannya, Kayu Jati Belanda hanyalah istilah, ya seperti kita menyebut turis luar negri itu "Bule", jadi bukan kayu Jati dan bukan juga hanya kayu dari Belanda. Tapi ada lagi istilah atau nama Jati Belanda yang lain, Daun Jati Belanda, ini adalah daun, biasanya digunakan untuk obat atau jamu, dan sepertinya sekarang banyak yang jual di toko-toko online. Ok, semoga artikelnya bisa bermanfaat, kalau ada koreksi atau tambahan, bisa tulis di komentar.


Untuk lebih lengkap, video bisa diakses di: Youtube


Topik: artikel, kayu, jati belanda, ...

 


 
HobiKayu Partners:
Kayuloka