Review Makita 4351FCT Barrel Grip Jigsaw

Review Makita 4351FCT Barrel Grip Jigsaw


8/10

Fitur: 9/10
Performa: 9/10
Harga: 6/10
Value: 7/10

Sangat berbeda dari yang saya bayangkan sebelumnya, enak banget buat manuver dan bikin pola.

Dulu saya pikir kalau Jigsaw yang model Barrel Grip itu susah atau ribet kalau digunakan, tapi setelah coba, malah jatuh cinta. Kali ini dapet kesempatan buat nyobain dan ngetes Jigsaw Makita 4351FCT, model Barrel Grip, pasangan dari Makita 4350FCT yang Top-Handle atau D-Handle.


Dari body dan build quality, standar Makita, tidak mengecewakan, base-plate kokoh dan tebal, juga sudah disertakan base plastiknya buat pemotongan di media yang sudah halus, misal media yang sudah di tempel laminasi atau HPL, jadi tidak merusak permukaannya. Ya mirip Jigsaw Dewalt atau Stanley STEL345.

Fitur juga hampir sama dengan Stanley atau Dewalt. Sudah ada pengatur kecepatan atau variable-speed, terus untuk penggantian mata pisau sudah tidak menggunakan kunci atau keyless, sudah ada settingan orbital atau pendulum, dan lampu LED. Tapi sayanganya untuk pengunci kemiringan, masih menggunakan kunci L. Motor OK, kuat, ya mungkin karena ini termasuk seri Makita yang heavy-duty, sama seperti pasangannya, Makita 4350FCT.


Untuk harga, ini yang bikin sakit perut, Rp. 3,5 juta-an, sama seperti 4350FCT. Kalau buat saya, mahal. Mahal untuk sebuah Jigsaw, ya mungkin karena kebutuhan saya hanya untuk hobi, akan beda jika digunakan untuk produksi atau para kontraktor atau developer. Kalau saya baru mau mulai hobi kayu, dana 3,5 juta akan lebih baik jika saya belikan Table Saw, tapi kembali lagi ke kebutuhan dan kemampuan.

Di Indonesia, saat ini (Mei 2020), baru ada 2 Jigsaw Barrel Grip, Makita 4351FCT dan Bosch GST 12V-LI. Untuk yang Bosch, dia sudah cordless, dengan baterai 12V. Inipun harganya cukup mahal, Rp. 2 juta-an untuk unitnya saja, belum baterai dan charger. Brand-brand menengah kebawah belum ada yang mengeluarkan Jigsaw model ini, mungkin karena dianggapnya Jigsaw model ini tidak cocok untuk tangan orang Indonesia yang kecil. Saya juga beranggapan seperti itu sebelum saya coba Makita ini, tapi ternyata tidak juga, tangan saya kecil, tapi enak dan nyaman aja.


Fitur yang kurang suka untuk Makita 4351FCT ini yaitu switch on/offnya, dia model slide, dan posisinya ada di kanan, agak ribet pada saat mau mematikan mesin di tengah pemotongan, karena posisinya agak jauh dibelakang jempol, ya mungkin karena tangan saya yang kecil juga. Lalu, karena posisi tangan kita dekat sekali dengan motor, tangan jadi panas, apalagi untuk pemotongan durasi lama, sangat kerasa panasnya. Walau dipegangan sudah ada karetnya, tapi tidak menutupi semua bagian atau area yang panas yang bersentuhan dengan tangan.


Saya tes menggunakan kayu Spruce tebal 2,5cm tidak ada masalah, saya coba juga untuk belah kayu Bengkirai 2cm juga tidak ada masalah, tapi mungkin kalau untuk pemotongan, mata pisau juga sangat berpengaruh. Kalau untuk pemotongan saya belum menemukan masalah, ya wajarlah kalau dilihat dari harganya.

Setelah saya coba, ternyata enak dan nyaman, khususnya untuk pemotongan pola atau belok-belok, karena dengan posisi tangan yang lebih dekat ke mata pisau, terus tekanan tangan kita yang satu arah, bikin enak untuk manuver, baik untuk posisi dorong atau tarik, nah ini yang bikin mesin ini enak digunakan, kita bisa mengoperasikannya dengan di tarik dari depan. Dengan ditarik, kita bisa melihat jelas garis potongan terhadap mata pisau, jadi bikin potongan presisi.


Secara keseluruhan, ya bikin jatuh cinta, setelah coba Jigsaw Barrel Grip, jadi males lagi balik ke Jigsaw Top-handle. Ya moga-moga brand-brand lain, khususnya yang menengah kebawah, mau bikin atau masukin Jigsaw jenis ini, dan dengan harga yang terjangkau, terjangkau dalam artian harganya tidak jauh dengan Jigsaw yang Top-Handle. Ya... semoga.


Topik: makita, review, perkakas, jigsaw, ...

 


 
HobiKayu Partners:
Wong DIY • Tukang Rumahan